the sociology of trolls

siapa sebenarnya orang di balik akun anonim yang suka menghujat

the sociology of trolls
I

Coba ingat-ingat lagi, kapan terakhir kali kita melihat kolom komentar yang damai tiba-tiba terbakar emosi? Entah itu di unggahan resep masakan, debat politik, atau sekadar video kucing lucu. Selalu ada satu akun tanpa foto profil, dengan nama absurd, yang melempar makian atau merendahkan orang lain tanpa alasan jelas. Saat membacanya, detak jantung kita mungkin sedikit naik. Kita mungkin berpikir, "Siapa sih orang yang kurang kerjaan ini?" Mari kita luangkan waktu sejenak untuk membayangkan sosok di balik layar itu. Mungkin seorang penyendiri di kamar gelap yang menolak bersosialisasi? Atau jangan-jangan, mereka adalah rekan kerja yang duduk di sebelah meja kita, atau orang yang berpapasan dengan kita di kasir minimarket tadi pagi? Jawaban dari pertanyaan ini ternyata jauh lebih kompleks, sedikit lebih menakutkan, namun juga sangat manusiawi dari yang kita kira.

II

Sebelum internet membuat semuanya serba cepat, perilaku mengacau ini sebenarnya sudah punya akar sejarah panjang. Dalam ilmu psikologi, kita mengenal konsep bernama online disinhibition effect. Mudahnya, ini adalah kondisi di mana layar gawai bertindak sebagai perisai pelindung. Saat kita tidak bertatapan mata secara fisik, keberanian dan agresi kita melonjak drastis. Dulu, fenomena hilangnya hambatan sosial ini terlihat pada grafiti kasar di dinding toilet umum zaman Romawi kuno. Sekarang, dinding toilet itu pindah ke genggaman kita. Namun, ini tidak sekadar soal menjadi anonim. Para sosiolog sepakat bahwa menyembunyikan identitas saja tidak cukup untuk mengubah seseorang menjadi perundung digital secara otomatis. Harus ada bahan bakar lain yang menyulutnya. Di sinilah misterinya mulai menebal. Apakah perilaku trolling ini murni bawaan lahir, atau ada semacam saklar tak terlihat yang tiba-tiba menyala saat manusia modern berinteraksi dengan media sosial?

III

Mari kita bedah sedikit soal hard science di baliknya. Beberapa tahun lalu, sejumlah peneliti psikologi merilis studi yang cukup menghebohkan. Mereka menemukan bahwa troll kelas berat di internet sering kali memiliki skor tinggi pada Dark Tetrad kepribadian: narsisme, psikopati, Machiavellianisme (kecenderungan memanipulasi), dan sadisme. Mendengar temuan ini, kita mungkin bernapas lega dan merasa tervalidasi. "Ah, berarti mereka memang punya bibit psikopat, pantas saja kelakuannya begitu!" Tapi, mari kita berpikir kritis sejenak. Jika kita menghitung volume ujaran kebencian di internet setiap harinya, matematika ini menjadi tidak masuk akal. Jumlah orang dengan kecenderungan sadis murni di dunia nyata tidak sebanyak jutaan akun bodong yang mampir di lini masa kita. Jadi, dari mana datangnya sisa troll lainnya? Jika mereka bukan penjahat berdarah dingin pemuja keributan, lalu siapa yang mengetik kalimat-kalimat menyakitkan itu? Fakta mengejutkannya sedang menanti kita di tikungan berikutnya.

IV

Inilah rahasia besarnya, teman-teman. Eksperimen gabungan dari peneliti Universitas Stanford dan Cornell mengungkap fakta sosiologis yang mengharuskan kita berkaca. Ternyata, siapa pun bisa menjadi troll jika kondisinya tepat. Ya, termasuk saya, dan mungkin juga teman-teman. Para ilmuwan ini menemukan dua hal utama yang bisa mengubah manusia biasa menjadi monster komentar: suasana hati yang sedang memburuk, dan paparan komentar negatif dari orang lain sebelumnya. Bayangkan seorang karyawan yang baru dimarahi atasannya, sedang kelelahan di kereta komuter yang padat, lalu ia membuka media sosial untuk lari dari kenyataan. Di sana, ia melihat pertengkaran meledak di kolom komentar. Kombinasi rasa frustrasi di dunia nyata dan "izin sosial" dari keributan di layar, membuat sistem pengereman di otaknya blong. Ia ikut mengetik kata kasar. Bukan karena ia seorang sadis, tapi karena ia manusia biasa yang sedang kewalahan, terjebak dalam desain platform yang algoritmanya memang memakan amarah. Secara sosiologis, ini disebut sebagai penularan emosi berskala masif. Kita sebenarnya tidak sedang melihat kumpulan iblis, melainkan potret kelelahan mental masyarakat modern yang tumpah di satu wadah virtual.

V

Mengetahui sains di balik perilaku ini tentu tidak lantas membenarkan tindakan mereka. Hujatan tetaplah hujatan, dan rekam jejak dampaknya pada kesehatan mental korban sangatlah nyata dan merusak. Namun, dengan meminjam kacamata sains dan sedikit empati, cara kita melihat akun-akun anonim ini bisa berubah secara drastis. Sering kali, mereka adalah orang-orang biasa di sekitar kita yang sedang kalah oleh harinya sendiri, lalu mencari pelampiasan termudah tanpa memikirkan konsekuensi. Aturan emas di internet sejak dulu berbunyi: don't feed the trolls (jangan beri makan para pembuat onar). Sekarang, kita memahami alasan ilmiahnya. Membalas amarah dengan amarah hanya akan menyiram bensin ke dalam mesin algoritma yang sudah dirancang untuk mengeksploitasi atensi kita. Jadi, lain kali kita melihat komentar jahat yang memancing emosi, mari ambil jeda sejenak. Tarik napas panjang. Sadarilah bahwa kita memiliki kendali penuh atas jari kita, dan kita bebas memilih untuk tidak ikut menari dalam panggung kelelahan massal tersebut.